Penulis : Hewi
KNC, Jakarta – Ibu Pertiwi hari ini sedang meratapi nasib anak-anak negerinya. Bumi Nusantara yang elok dan kaya raya ini seolah tak pernah berhenti mengucurkan air mata kesedihan. Bukan karena bencana alam semata, melainkan karena ulah dan keserakahan para pengelola negara yang tega mengkhianati amanah rakyatnya sendiri.
Di saat jutaan rakyat jelata merangkak perjuangkan hidup saban hari hanya demi sesuap nasi, panggung kekuasaan justru mempertontonkan keserakahan yang kian mengerikan. Rasa keadilan publik hancur berkeping-keping; Tangis Pertiwi pecah menyaksikan ulah oknum pejabat busuk yang menari-nari di atas penderitaan warganya.
Luka yang Menganga di Dada Ibu Pertiwi
Betapa teririsnya hati Pertiwi saat menatap realita faktual yang terjadi di atas tanah airnya hari-hari ini:
-
Jeritan Rakyat Kecil: Badai PHK di sektor manufaktur terus mengintai, harga kebutuhan pokok kian melambung tinggi, dan beban hidup rakyat bawah makin mencekik. Anak-anak bangsa kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak.
-
Keserakahan Tanpa Batas: Di sisi lain, skandal korupsi bernilai fantastis hingga puluhan triliun rupiah masih saja menggerogoti uang rakyat. Mulai dari dana bantuan sosial, pengelolaan sumber daya alam, hingga anggaran pelayanan publik terus dijarah oleh tangan-tangan kotor di birokrasi.
-
Ketimpangan yang Menyakitkan: Hukum yang seharusnya melindungi seluruh anak bangsa justru kerap memperlihatkan wajah ganda: tumpul dan kompromistis bagi elit perampok uang negara, namun begitu tajam dan tegang bagi rakyat kecil yang terdesak perut.
Mengkhianati Janji Reformasi dan Kemuliaan Bangsa
Kekuasaan yang seharusnya dipakai untuk menyejahterakan rakyat justru dijadikan alat pemuas dahaga hedonisme dan aksi flexing pejabat. Himbauan agar rakyat “mengencangkan ikat pinggang” terasa seperti lelucon pahit ketika oknum pejabat sibuk berebut fasilitas mewah dan mengamankan proyek-proyek bernilai fantastis.
Pertiwi menangis karena cita-cita luhur pendiri bangsa dan perjuangan darah Reformasi kini dicemari oleh tabiat pemburu rente. Pejabat yang seharusnya menjadi pelayan (public servant) justru menjelma menjadi “raja-raja kecil” yang kebal hukum, tuli terhadap kritik, dan buta terhadap derita rakyatnya.
Peringatan Bagi Para Pengkhianat Amanah
Air mata Pertiwi dan jeritan rakyat bukanlah sekadar ratapan tanpa arti. Ini adalah peringatan keras bahwa batas kesabaran publik ada ambang batasnya. Erosi kepercayaan (distrust) yang kian meluas adalah sinyal bahaya bagi keberlangsungan tatanan bernegara.
Negara ini membutuhkan tindakan nyata untuk mengeringkan air mata Pertiwi:
-
Pemberantasan Korupsi Tanpa Kompromi: Miskinkan para koruptor dan sita seluruh aset hasil kejahatan jabatan tanpa pandang bulu.
-
Bersihkan Birokrat Busuk: Pangkas celah diskresi dan privilese yang memicu praktik suap dan penyalahgunaan wewenang.
-
Kembalikan Marwah Pelayan Rakyat: Kembalikan rasa malu dan nurani ke dalam jiwa setiap pemangku kebijakan.
Pertiwi tak boleh terus menangis. Sudah saatnya hukum ditegakkan setinggi-tingginya dan keadilan dikembalikan kepada pemilik sah negeri ini: Rakyat Indonesia. ( Hewi )
